Dana Kadeudeuh KORPRI Karawang Membelit Pengurus Baru, Tokoh Senior Desak Dialog Terbuka dan Transparansi Total
![]() |
| Foto : Mantan ASN demo di depan kantor Pemda kabupaten Karawang menuntut pencairan dana kadeudeuh korpri. |
Karawangsatu.com - Karawang | Persoalan dana Kadeudeuh KORPRI di Kabupaten Karawang kembali menjadi sorotan. Di tengah dinamika pergantian kepengurusan, muncul seruan kuat agar penyelesaian masalah tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melalui dialog terbuka antara pengurus KORPRI lama dan pengurus baru, termasuk para penggagas iuran anggota sejak awal.
Seruan ini bukan tanpa alasan. Jika tidak ditangani dengan bijak, pengurus baru dikhawatirkan justru menanggung beban moral dan tanggung jawab atas persoalan yang akar masalahnya terjadi jauh sebelum mereka menjabat, tanpa pernah ada penyelesaian yang tuntas.
“Jangan sampai pengurus baru yang niatnya membereskan persoalan, malah menjadi korban dari masalah lama yang tidak pernah dibuka secara jujur,” tegas Drs. Saleh Effendi, MBA, tokoh senior KORPRI.
Kembali ke Ruh AD/ART KORPRI
Saleh Effendi mantan Sekretaris KORPRI periode 1987–1993 dan Ketua KORPRI 2010–2012 menekankan bahwa solusi sejati hanya bisa dicapai jika semua pihak kembali kepada tujuan awal pendirian KORPRI sebagaimana tertuang dalam AD/ART.
Ia mengingatkan tiga pilar utama KORPRI:
1. Membentuk organisasi pembinaan PNS/ASN di luar kedinasan yang mandiri dan berlandaskan gotong royong.
2. Membangun kekompakan dan jiwa korsa antaranggota.
3. Mengutamakan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan organisasi.
Menurutnya, jika ketiga prinsip ini benar-benar dijalankan secara konsisten dan seksama, maka persoalan dana seberat apa pun bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diselesaikan.
Emosi Adalah Musuh Penyelesaian
Dalam suasana yang mulai menghangat, Saleh Effendi mengingatkan bahwa emosi hanya akan memperkeruh keadaan.
Jalan keluar justru terletak pada ketenangan, keterwakilan, dan keberanian untuk duduk bersama.
“Semua persoalan tidak akan pernah selesai jika dihadapi dengan emosi. Kita harus tenang, duduk bersama, dengan keterwakilan yang sah, dan membuka semuanya secara transparan,” ujarnya.
Ia meyakini bahwa keterbukaan adalah kunci. Ketika seluruh fakta disampaikan apa adanya tanpa ditutup-tutupi maka ruang untuk saling memahami akan terbuka lebar.
“Percaya, kalau sudah terbuka semua persoalan, pasti bisa dipahami bersama. Selama masih ada jalan kebaikan, penyelesaian itu selalu ada,” tambahnya.
Menjaga Marwah KORPRI
Lebih dari sekadar persoalan dana Kadeudeuh, polemik ini menyangkut marwah dan kepercayaan anggota terhadap KORPRI sebagai organisasi pemersatu ASN.
Tanpa transparansi dan musyawarah, KORPRI berisiko kehilangan ruh gotong royong dan jiwa korsa yang menjadi fondasi utamanya.
Kini, harapan besar tertuju pada keberanian seluruh elemen KORPRI Karawang baik pengurus lama maupun baru untuk membuka lembaran lama dengan jujur, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memastikan organisasi ini tetap berdiri tegak, bermartabat, dan dipercaya oleh anggotanya.
• NP

Post a Comment