Dunia Pers Berduka, Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
![]() |
| Foto : Zulmansyah Sekedang. (Ist) |
Karawangsatu.com - Jakarta | Dunia pers nasional berduka. Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang (54), meninggal dunia pada Sabtu (18/11) pukul 00.10 WIB di Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Ia mengembuskan napas terakhir setelah mengalami serangan jantung.
Kabar wafatnya Zulmansyah mengejutkan banyak pihak. Beberapa jam sebelum kejadian, ia masih aktif menghadiri Deklarasi Peluncuran Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) di Kampus LSPR, Jakarta. Tidak ada tanda-tanda kondisi kesehatannya memburuk secara signifikan.
Namun, situasi berubah cepat. Usai acara, saat makan malam bersama sejumlah pengurus PWI di kawasan Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Zulmansyah tiba-tiba mengeluhkan nyeri dada hebat sekitar pukul 21.00 WIB.
Kondisinya segera menurun disertai lemas dan muntah hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
“Serangan datang sangat cepat. Kami langsung membawa beliau ke rumah sakit,” ujar Sumber Rajasa Ginting.
Dokter mendiagnosis serangan jantung akut, diperparah riwayat penyakit jantung yang telah lama dideritanya.
Tim medis sempat merekomendasikan rujukan ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita untuk penanganan lanjutan.
Namun takdir berkata lain di tengah upaya penyelamatan, nyawanya tidak tertolong.
Kepergian Zulmansyah bukan sekadar kehilangan personal, tetapi pukulan bagi stabilitas organisasi. Ia dikenal sebagai arsitek penting rekonsiliasi internal PWI di tengah konflik dualisme kepengurusan yang sempat mencuat.
Melalui Kongres Persatuan 2025, ia memainkan peran kunci dalam menyatukan kembali organisasi yang terbelah.
Rekam jejaknya menunjukkan konsistensi dan loyalitas panjang. Dari memimpin PWI Riau selama dua periode, hingga menduduki posisi strategis di tingkat pusat, Zulmansyah tak pernah jauh dari dinamika organisasi.
Dalam masa krisis, ia bahkan dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum—posisi yang menuntut ketegasan sekaligus kemampuan merangkul.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyebut kepergian Zulmansyah sebagai kehilangan sosok langka.
“Kami kehilangan kader terbaik pekerja keras yang selalu menempatkan organisasi di atas kepentingan pribadi. Perannya dalam menjaga keutuhan PWI tidak tergantikan,” ujarnya.
Di mata rekan sejawat, Zulmansyah bukan hanya organisator, tetapi juga jembatan antar generasi wartawan. Ia dikenal terbuka, komunikatif, dan mampu meredam konflik dengan pendekatan dialog.
Kini, sosok itu telah pergi. Yang tersisa adalah jejak panjang pengabdian dan pekerjaan rumah bagi generasi berikutnya untuk menjaga pers tetap solid, independen, dan bermartabat.
Dunia pers Indonesia kehilangan lebih dari sekadar pejabat organisasi. Ia kehilangan seorang pemersatu. (***)

Post a Comment