Cegah Radikalisme Sejak Dini, Disdik Karawang Perkuat Wawasan Kebangsaan Pelajar
![]() |
| Foto : kegiatan sosialisasi pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang digelar bersama Tim Idensos Satgaswil Jawa Barat. (Istimewa) |
Karawangsatu.com - Karawang | Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang menyatakan komitmennya memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan pelajar melalui kegiatan sosialisasi pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang digelar bersama Tim Idensos Satgaswil Jawa Barat.
Kegiatan yang berlangsung di Villa Legok Muncang pada pukul 14.00 hingga 15.30 WIB itu dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang, Drs. Wawan Setiawan, M.M., bersama perwakilan siswa-siswi SMP se-Kabupaten Karawang.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang, Wawan Setiawan, menyebut kegiatan tersebut menjadi langkah penting dalam membangun karakter pelajar yang cinta tanah air sekaligus memiliki daya tangkal terhadap pengaruh paham menyimpang.
“Alhamdulillah kami menyambut baik dan berterima kasih kepada Tim Idensos Satgaswil Jabar. Kegiatan ini memang kami butuhkan untuk memperkuat wawasan kebangsaan para pelajar di Karawang,” ujar Wawan.
Dalam kesempatan yang sama, H. Satori menegaskan bahwa generasi muda menjadi kelompok yang rentan terpapar paham intoleran dan radikal, terutama melalui media sosial dan internet yang saat ini begitu masif digunakan kalangan pelajar.
Menurutnya, edukasi sejak dini menjadi benteng utama agar pelajar tidak mudah terpengaruh narasi provokatif yang dapat mengancam persatuan bangsa.
“Kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan kembali rasa cinta tanah air serta memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, dan terorisme berikut cara pencegahannya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, terorisme bukan hanya ancaman keamanan, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas sosial dan masa depan generasi muda.
Tindakan teror, kata dia, bertujuan menciptakan ketakutan di tengah masyarakat melalui kekerasan maupun ancaman kekerasan yang berdampak luas.
Karena itu, para pelajar diminta lebih selektif dalam menerima informasi di ruang digital. Penyalahgunaan media sosial, lanjutnya, dapat membentuk pola pikir yang keliru apabila tidak dibarengi pemahaman kebangsaan yang kuat.
“Media sosial meninggalkan jejak digital yang tidak bisa dihapus. Karena itu pelajar harus bijak menggunakan internet agar tidak terjerumus ke dalam paham yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, para pelajar diharapkan tidak hanya memahami bahaya radikalisme secara teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Sosialisasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perang melawan intoleransi dan radikalisme tidak cukup dilakukan aparat penegak hukum semata, melainkan membutuhkan keterlibatan dunia pendidikan untuk membangun generasi muda yang kritis, moderat, dan berkarakter kebangsaan kuat.
• Kojek

Post a Comment