Upaya Bupati Aep Syaepuloh Lindungi Warga Dari Rob dan Abrasi di Cemara Jaya, 21 Rumah Dibangun
![]() |
| Foto : Bupati Aep Syaepuloh secara simbolis menyerahkan kunci rumah kepada warga dalam kegiatan Gebyar Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN). (Istimewa) |
Karawangsatu.com - Karawang | Pemerintah Kabupaten Karawang tampaknya tidak ingin sekadar hadir saat bencana datang mereka mencoba menutup siklus kerentanan itu sekaligus.
Langkah ini terlihat dari penyerahan rumah bagi warga terdampak abrasi dan rob di pesisir utara Karawang.
Di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Rabu (6/5/2026), Bupati Aep Syaepuloh secara simbolis menyerahkan kunci rumah kepada warga dalam kegiatan Gebyar Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN).
Momen ini bukan sekadar seremoni, tetapi penanda bahwa relokasi dari zona rawan bencana mulai benar-benar diwujudkan.
Sebanyak 21 unit rumah baru dibangun untuk masyarakat yang sebelumnya tinggal di wilayah pesisir yang rusak parah akibat abrasi dan banjir rob.
Kawasan tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai titik rentan, di mana air laut secara perlahan menggerus daratan sekaligus rasa aman warga.
“Ini adalah komitmen kami untuk memastikan masyarakat yang terdampak abrasi mendapatkan hunian yang layak dan aman,” ujar Aep.
Ia menegaskan, program ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perlindungan jangka panjang terhadap warga dari ancaman bencana yang berulang.
Pernyataan itu penting, namun juga menyisakan pertanyaan: apakah pembangunan 21 rumah cukup untuk menjawab persoalan abrasi yang terus meluas di pesisir Karawang?
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Karawang, Asep Hazar, menjelaskan proyek ini menelan anggaran Rp2,96 miliar. Pembangunan dimulai sejak Agustus hingga Desember 2025 dan kini seluruh unit telah rampung.
“Seluruh unit sudah selesai dan siap ditempati,” ujarnya.
Di tingkat warga, bantuan ini jelas membawa dampak langsung. Calim, salah satu penerima, menyebut rumah tersebut sebagai titik balik bagi keluarganya.
“Kini kami merasa lebih tenang dan aman,” katanya.
Namun di balik rasa syukur itu, pekerjaan rumah pemerintah daerah belum selesai. Abrasi di pesisir utara Jawa bukan persoalan satu musim melainkan krisis ekologis yang membutuhkan penanganan terpadu, mulai dari perlindungan garis pantai, rehabilitasi mangrove, hingga pengendalian tata ruang.
Program pembangunan rumah ini bisa menjadi awal yang baik. Tapi tanpa langkah pencegahan yang lebih luas, ada risiko bahwa bantuan serupa akan terus berulang di masa depan dengan cerita yang berbeda sama, hanya lokasi yang berbeda.
• NP

Post a Comment