Iklan

terkini

Altruisme KAHMI Jawa Barat untuk Jawa Barat Istimewa, Refleksi Menjelang Musyawarah Wilayah KAHMI Jawa Barat 2026

Mustapid
16 Juli 2026, 11:08 WIB Last Updated 2026-07-16T04:11:23Z

Oleh: Ahmad Hidayat, S.Ikom (Kandidat Presidium KAHMI Jawa Barat)


Musyawarah Wilayah KAHMI Jawa Barat semestinya dimaknai lebih dari sekadar agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Forum ini perlu menjadi momentum strategis untuk merumuskan arah pengabdian dan memperkuat peran KAHMI dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan yang kian kompleks. 


Jawa Barat saat ini menghadapi beragam persoalan, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesenjangan ekonomi, transformasi industri, krisis lingkungan, hingga menguatnya polarisasi sosial. Kompleksitas persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sipil yang mampu menghadirkan gagasan progresif, kepemimpinan yang memberi teladan, serta kolaborasi yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.


Dalam kerangka itulah, altruisme patut tampil sebagai ruh baru gerakan KAHMI Jawa Barat.


Filsuf Prancis Auguste Comte memaparkan altruisme sebagai prinsip hidup yang berpusat pada kepentingan pihak lain. Menurut Comte, kemajuan suatu masyarakat tidak ditentukan oleh besarnya kekuasaan atau kekayaan, melainkan oleh tumbuhnya kesediaan untuk mengabdi kepada sesama. Pengabdian bukan sekadar tindakan moral, melainkan fondasi yang melahirkan peradaban.


Gagasan tersebut menemukan padanannya dalam tradisi HMI. Sejak berdiri pada 1947, HMI membina kader yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap umat dan bangsa. Tujuan HMI untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah Swt. menegaskan bahwa setiap kader dituntut menghadirkan kemanfaatan, bukan semata-mata mengejar kedudukan.


Nilai ini kemudian diperkaya oleh pemikiran Nurcholish Madjid. Cak Nur berkali-kali mengingatkan bahwa keberagamaan harus menghasilkan kebermanfaatan sosial. Keislaman tidak boleh berhenti pada simbol dan identitas, melainkan harus menjelma menjadi etika publik yang menghadirkan keadilan, kejujuran, keterbukaan, serta penghormatan atas martabat manusia. Menurut Cak Nur, iman memperoleh maknanya ketika direalisasikan dalam kerja nyata untuk kemaslahatan bersama.


Pesan itu terasa kian krusial bagi KAHMI sebagai organisasi alumni. Jejaring alumni HMI kini tersebar di berbagai lini kehidupan: birokrasi, perguruan tinggi, dunia usaha, profesi, organisasi masyarakat, hingga politik. Potensi sebesar itu akan kehilangan arti apabila hanya diposisikan sebagai modal sosial bagi kepentingan internal. 


Sebaliknya, potensi tersebut akan menjadi kekuatan yang besar bila diarahkan untuk menuntaskan persoalan-persoalan publik.


Jawa Barat membutuhkan organisasi yang dapat mempertemukan beragam kepentingan demi kepentingan yang lebih luas. KAHMI dapat mengambil peran sebagai ruang tumbuhnya gagasan kebijakan, penguatan ekonomi umat, pendampingan generasi muda, pengembangan literasi, sampai penggerak kepedulian terhadap lingkungan. Kontribusi seperti itulah yang akan menjaga organisasi tetap relevan di tengah kehidupan masyarakat.


Karena itu, Musyawarah Wilayah semestinya tidak hanya melahirkan Presidium baru, tetapi juga membangun komitmen baru. Kepemimpinan perlu dipahami sebagai amanah untuk melayani, bukan sekadar kehormatan yang ingin dimiliki.

Perbedaan pandangan hendaknya menjadi tenaga intelektual, bukan penyebab perpecahan. Keberhasilan organisasi tidak cukup dinilai dari banyaknya agenda yang terlaksana, melainkan dari manfaat nyata yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.


Pada akhirnya, Jawa Barat Istimewa tidak hanya dibentuk oleh program pemerintah, tetapi juga oleh budaya pengabdian yang terus hidup di tengah masyarakat. KAHMI memiliki jejak panjang dalam melahirkan pemimpin, intelektual, dan penggerak perubahan. Kini saatnya warisan sejarah tersebut diterjemahkan menjadi gerakan yang semakin membumi.


Altruisme bukan hanya nilai moral yang diyakini, tetapi sikap yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika KAHMI mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan golongan, mengedepankan gagasan daripada ambisi pribadi, serta menjadikan pengabdian sebagai ruh organisasi, maka KAHMI tidak sekadar merawat dan melanjutkan warisan nilai-nilai HMI, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mewujudkan Jawa Barat yang maju, adaftif dan berkelanjutan.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Altruisme KAHMI Jawa Barat untuk Jawa Barat Istimewa, Refleksi Menjelang Musyawarah Wilayah KAHMI Jawa Barat 2026

Terkini

Iklan