Kirab Mahkota Binokasih Jadi Panggung Kedekatan Bupati Aep Syaepuloh dan Rakyat Karawang
![]() |
| Foto : Bupati Karawang Aep Aep Syaepuloh saat menunggangi kuda mendampingi KDM |
Karawangsatu.com - Karawang | Malam di Kota Pangkal Perjuangan berubah menjadi lautan manusia ketika Kirab Mahkota Binokasih melintasi jalur protokol Karawang. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan, menyambut iring-iringan budaya yang sarat sejarah.
Namun perhatian publik malam itu tertuju pada satu momen, Bupati Karawang Aep Syaepuloh tampil menunggang kuda berdampingan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM.
Sorak warga pecah saat kedua pemimpin itu memasuki pusat keramaian. Dengan balutan pakaian adat Sunda lengkap, Aep terlihat gagah berada di barisan depan kirab budaya yang menjadi simbol penghormatan terhadap warisan Kerajaan Sunda tersebut.
“Pak Haji! Pak Haji Aep!” teriak warga bersahut-sahutan dari berbagai sisi jalan.
Sapaan itu dibalas senyum dan lambaian tangan dari atas pelana kuda. Di beberapa titik, Aep bahkan tampak memperlambat laju kudanya untuk menyapa warga yang telah menunggu sejak sore.
Kehangatan itu membuat suasana kirab bukan sekadar seremoni budaya, melainkan juga panggung kedekatan antara pemimpin dan rakyat.
Bagi masyarakat Karawang, sapaan “Pak Haji” bukan hanya panggilan biasa. Julukan itu telah melekat sebagai simbol kedekatan emosional warga terhadap sosok Aep yang dikenal sederhana dan mudah berbaur dengan masyarakat.
Kehadiran langsung Bupati Karawang dalam pengawalan Kirab Mahkota Binokasih menuai apresiasi luas.
Banyak warga menilai keterlibatan tersebut sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga budaya Sunda di tengah derasnya arus modernisasi.
“Jarang ada pemimpin yang mau turun langsung seperti ini. Naik kuda, ikut mengawal budaya, menyapa warga. Ini bukti pemimpin hadir bersama rakyat,” ujar seorang warga di lokasi kirab.
Kirab Mahkota Binokasih sendiri merupakan tradisi budaya bernilai historis tinggi bagi masyarakat Sunda. Mahkota tersebut menjadi simbol kebesaran dan kesinambungan sejarah kerajaan Sunda yang hingga kini tetap dihormati dan dijaga.
Malam itu, Karawang tidak hanya menjadi pusat perayaan budaya, tetapi juga menampilkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga identitas daerah.
Kebersamaan KDM dan Bupati Aep di atas pelana kuda menghadirkan simbol sinergi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam merawat akar tradisi.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, keduanya seolah ingin menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan sejarah dan budayanya sendiri.
Kirab Mahkota Binokasih pun bukan sekadar tontonan. Ia menjelma menjadi momentum emosional yang memperlihatkan bagaimana budaya mampu menyatukan pemimpin dan rakyat dalam satu semangat: menjaga warisan leluhur tetap hidup di tanah Sunda.
• NP

Post a Comment